Jumat, 01 Juni 2012

Teknologi Informasi dalam Akuntansi

contoh penggunaan TI dalam program MYOB
Penggunaan Teknologi Informasi dalam Sistem Informasi Akuntansi

A. Perkembangan TI dalam AkuntansiBanyak istilah yang berhubungan dengan teknologi informasi, hal ini disebabkan karena banyaknya perubahan dan tidak adanya kesepakatan istilah yang digunakan. Beberapa istilah yang sering digunakan adalah sistem informasi manajemen, sistem informasi manajemen berbasis komputer, teknologi informasi (TI), teknologi komputer, manajemen informasi, dan sistem informasi (Jogiyanto, 2007). TI secara lengkap dinyatakan oleh Martin  et.al. (2002) yaitu teknologi  komputer yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi serta teknologi komunikasi yang digunakan untuk mengirimkan informasi. (Martin  et.al.,  2002 dalam Noviari, 2009). TI telah banyak berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Perkembangan teknologi informasi meliputi perkembangan infrastruktur TI, seperti perangkat keras, perangkat lunak,  teknologi penyimpanan data, dan  teknologi komunikasi (Laudon, 2006). Dengan adanya perkembangan TI banyak memberikan kemudahan pada berbagai aspek kegiatan bisnis (Mc. Leod, 2004). Hal ini disebabkan karena teknologi berperan sebagai alat bantu dalam pembuatan keputusan bisnis. Perkembangan TI juga berperan penting dalam bidang akuntansi. Perkembangan teknologi informasi, terutama pada era informasi berdampak signifikan terhadap sistem informasi akuntansi (SIA) dalam suatu perusahaan. Menurut Bodnar dan Hopwood (2004), SIA adalah kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya menjadi informasi yang 2 dikomunikasikan kepada berbagai pihak pengambil keputusan. Salah satu dampak yang dirasakan dalam penggunan SIA oleh akuntan di suatu perusahaan adalah pemrosesan data yang mengalami perubahan dari sistem manual ke sistem komputer, sehingga akan mempengaruhi peningkatan jumlah dan kualitas informasi dalam pelaporan keuangan (Noviari, 2009). Akuntan merupakan profesi yang aktivitasnya banyak berhubungan dengan TI. kemajuan TI dan perkembangan akuntansi akan memunculkan peluang bagi akuntan. Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh akuntan yang mempunyai pengetahuan memadai tentang SIA dan perangkat lunak audit berbasis komputer. Sebaliknya, akuntan yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang SIA dan perangkat lunak audit berbasis komputer akan tergusur posisinya karena tidak mampu memberikan jasa yang diperlukan oleh klien (Noviari, 2009). Dengan mempunyai pengetahuan yang memadai tentang SIA dan perangkat lunak audit berbasis komputer, akuntan tidak hanya dapat memberikan keuntungan atas kelangsungan karier bagi dirinya sendiri. Akan tetapi, akuntan dapat memberikan keuntungan bagi  perusahaan di tempat mereka bekerja sehingga dapat bersaing dengan perusahaan lainya. Handayani (2007) menyatakan bahwa kelangsungan hidup perusahaan sangat ditentukan oleh kemampuanya untuk bersaing di pasar. Kemampuan bersaing memerlukan strategi yang dapat memanfaatkan semua kekuatan dan peluang yang ada, serta menutup kelemahan dan menetralisasi hambatan strategis dalam dinamika bisnis yang dihadapi.  Penerapan teknologi baru yang dapat menguntungkan perusahaan merupakan cara manajemen dalam memanfaatkan semua kekuatan dan peluang yang ada untuk bersaing dengan perusahaan lainya. Kustono (2000) menyatakan bahwa penerapan 3 teknologi baru dalam suatu organisasi akan berpengaruh pada keseluruhan organisasi, terutama pada sumber daya manusia. Faktor pengguna sangat penting untuk diperhatikan dalam penerapan sistem baru, karena tingkat kesiapan pengguna untuk menerima sistem baru mempunyai pengaruh besar dalam menentukan sukses tidaknya pengembangan atau penerapan sistem tersebut. Pentingnya mengetahui kesiapan pengguna terhadap penerapan TI mendorong dilakukannya berbagai penelitian dengan menggunakan suatu model yang menggambarkan tingkat penerimaan terhadap teknologi yaitu  Technology Acceptance Model  (TAM). Tujuan utama TAM adalah memberikan penjelasan tentang penentuan penerimaan komputer secara umum, memberikan penjelasan tentang perilaku  atau sikap pengguna dalam suatu populasi (Davis et.al., 1989). Pemakaian TAM dalam penelitian tentang penerimaan penerapan teknologi sudah dilakukan oleh beberapa peneliti di negara yang berbeda dan penerapan teknologi yang berbeda pula untuk menguji keakuratan TAM (Tangke, 2004). Penelitian tersebut antar lain penelitian yang dilakukan Davis  et.al. (1989) mengembangkan TAM untuk meneliti faktor-faktor determinan dari penggunaan sistem informasi oleh pengguna. Hasil penelitian ini menunjukan penggunaan sistem informasi dipengaruhi oleh minat (Intention)  pemanfaatan sistem informasi, yang mana minat  (Intention)  tersebut dipengaruhi oleh persepsi tentang kegunaan teknologi  (perceived usefulness)  dan persepsi tentang kemudahan penggunaan teknologi (perceived ease of use).  Thompson  et.al. (1991) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan teknologi informasi. Penelitiannya menggunakan enam faktor yang mempengaruhi pemanfaatan teknologi informasi, yaitu faktor sosial, perasaan individual 4 (affect), kesesuaian tugas, konsekuensi jangka panjang, kondisi yang memfasilitasi, dan kompleksitas. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara faktor sosial, perasaan individual, kesesuaian tugas, dan konsekuensi jangka panjang dengan pemanfaatan teknologi informasi. Faktor kompleksitas memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan pemanfaatan teknologi informasi. Hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya hubungan  negatif dan tidak signifikan antara kondisi yang memfasilitasi dengan pemanfaatan teknologi informasi.  Igbaria  et.al. (1996) menggunakan tiga buah konstruk untuk memeriksa pengaruhnya terhadap pilihan individu dalam menggunakan suatu komputer. Ketiga faktor ini adalah persepsi tentang kegunaan teknologi (perceived usefulness), persepsi tentang kesenangan (perceived enjoyment), dan faktor organisasi (internal dan eksternal organisasi). Dua indikator digunakan untuk memproksi penggunaan komputer mikro, yaitu penggunaan harian komputer mikro laporan-sendiri  (self-reported daily use of micro-computers) dan frekuensi komputer mikro laporan-sendiri  (self-reported frequency use of micro-computers). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga konstruk ini signifikan mempengaruhi penggunaan komputer mikro. Venkatesh dan Moris (2000) melakukan penelitian pada perusahaan administrasi publik, perbankan, komunikasi, dan hiburan untuk melihat perbedaan gender terhadap faktor sosial dan peran mereka dalam penerimaan teknologi dan prilaku pemakai. Penelitian dilakukan untuk mereview dan menggabungkan beberapa model penerimaan teknologi informasi dan menghipotesiskan ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, dan faktor sosial berpengaruh terhadap  minat pemanfaatan TI. Sedangkan minat menggunakan TI dan kondisi yang memfasilitasi pemakai berpengaruh terhadap 5 penggunaan TI. Hasil penelitan menunjukan minat menggunakan TI dan kondisi yang memfasilitasi pemakai berpengaruh terhadap penggunaan TI. Maharsi  et.al. (2007) meneliti untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat menggunakan internet banking oleh penggunanya dengan menggunakan TAM. Tujuan penelitian ini untuk memberikan informasi tentang faktorfaktor yang mempengaruhi minat menggunakan internet banking oleh penggunanya dan dapat menjadi masukan bagi pihak manajemen bank untuk mengevaluasi penggunaan internet banking. Objek penelitian adalah delapan bank yang berada di Surabaya yang menyediakan layanan  internet banking. Hasil penelitian membuktikan bahwa faktor yang mempengaruhi minat menggunakan  internet banking  (Behavioral Intention) adalah persepsi nasabah terhadap manfaat  internet banking  (Perceived Usefulness),persepsi nasabah terhadap kemudahan menggunakan internet banking (Perceived Ease of Use),  dan persepsi nasabah terhadap kredibilitas  internet banking (Perceived Credibility). Faktor kemampuan nasabah menggunakan komputer (Computer Self Efficacy) juga berpengaruh pada minat menggunakan  internet banking  (Behavioral Intention) secara tidak langsung melalui Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use,dan Perceived Credibility.  Kim et.al. (2009) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat auditor internal dalam menggunakan perangkat lunak audit, dan mengukur kompleksitas fiturfitur perangkat lunak audit dengan mengelompokan fitur-fitur perangkat lunak audit menjadi fitur dasar dan fitur lanjutan yang akan mempengaruhi minat auditor internal dalam menggunakan perangkat lunak audit. Objek penelitan ini menggunakan auditor internal yang tergabung dalam Institute of Internal Auditor (IIA) di Amerika Serikat. 6 Variabel yang digunakan adalah faktor organisasi, faktor sosial, faktor individu, persepsi tentang kemudahan penggunaan teknologi  (perceived ease of use), persepsi tentang kegunaan teknologi  (perceived usefulness), dan kompleksitas fitur perangkat lunak audit. Hasil penelitian menunjukan bahwa minat menggunakan perangkat lunak audit memiliki pengaruh terhadap  perceived ease of use  dan  perceived usefulness. perceived ease of use  juga memiliki pengaruh terhadap  perceived usefulness. Faktor organisasi tidak memiliki pengaruh terhadap perceived usefulness dan faktor organisasi berpengaruh terhadap  perceived ease of use.  Faktor sosial tidak memiliki pengaruh terhadap  perceived ease of use  dan  perceived usefulness.  Faktor individu memiliki pengaruh terhadap perceived usefulness dan faktor individu tidak berpengaruh terhadap perceived ease of use. Fitur teknologi yang lebih kompleks, akan menurunkan minat auditor internal dalam menggunakan fitur perangkat lunak audit sehingga mengurangi perceived usefulness. Penelitian ini berusaha untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penggunaan sesungguhnya perangkat lunak audit (Actual use) oleh auditor internal pada Bank Indonesia (BI) di kota Jakarta. Perangkat lunak yang ingin diuji tingkat penerimaannya dalam penelitian ini adalah Audit Command Language (ACL).  ACL menurut Sasongko (2005) adalah sebuah program untuk membantu akuntan dalam melakukan pemeriksaan di lingkungan sistem informasi berbasis komputer atau pemrosesan data elektronik. Dalam wikipedia dijelaskan bahwa ACL adalah perangkat lunak untuk mengekstrasi dan menganalisis data yang digunakan untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan.  Dengan sampel data yang besar, ACL digunakan untuk menemukan berbagai penyelewengan atau pola dalam transaksi yang 7 dapat mengindikasikan adanya kelemahan pengendalian atau kecurangan. Kecurangan itu sendiri dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu kecurangan dalam laporan keuangan (dilakukan oleh pihak manajemen), korupsi, dan penyalahgunaan aset (dilakukan oleh karyawan).   Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Kim  et.al., (2009) adalah sampel penelitian. Penelitian Kim  et.al., (2009) dilakukan di Amerika Serikat dengan objek penelitan menggunakan auditor internal yang tergabung dalam  Institute of Internal Auditor (IIA) di Amerika Serikat. Sedangkan penelitian ini dilakukan di Indonesia dengan objek penelitian menggunakan auditor internal pada Bank  Indonesia (BI) di kota Jakarta, Indonesia. Alasan menggunakan objek perusahaan perbankan disebabkan masih sedikit penelitian yang mencoba meneliti penggunaan sesungguhnya perangkat lunak audit (Actual use)  oleh auditor internal di perusahaan perbankan.  Perubahan variabel kegunaan sistem  (system usage) digantikan dengan menambahkan variabel minat menggunakan teknologi (Intention to use)  dan variabel penggunaan sesungguhnya  (Actual use) pada penelitian ini bertujuan memperluas konstruk penelitian agar menghasilkan  output yang lebih baik. Penghapusan variabel kompleksitas fitur perangkat lunak audit dalam penelitian ini disebabkan pada penelitian ini objek penelitian hanya dari satu perusahaan saja, sehingga  perangkat lunak audit yang digunakan oleh setiap auditor internal di perusahaan yang diteliti adalah sama dan seragam.

B. Pengertian TeknologiKata ’teknologi’ digunakan pada abad ketujuh belas untuk menggambarkan suatu studi sistematis mengenai seni atau mengenai suatu istilah tertentu. Kata ’teknologi’ itu sendiri berasal dari bahasa Yunani ‘tekhnologia’ dan bahasa latin  ‘technologia’  yang memiliki arti perlakuan sistematis. Pada abad kedelapan belas kharakteristik dari definisi teknologi kemudian lebih cenderung kepada seninya, khususnya mekanik, baru kemudian pada abad kesembilan belas definisi dari teknologi berkembang menjadi seni secara praktis Chandler (2000), dalam Cahyadi (2006). Pada perkembangannya sekarang ini pengertian dari kata ’teknologi’ bukan lagi merupakan suatu hal yang sederhana, pengertian dari istilah tersebut menjadi suatu hal yang lebih rumit dan kompleks, dan menjadi bahan diskusi dan perdebatan khususnya di kalangan peneliti dan akademisi. Di dalam beberapa artikel dan literatur seperti Queralto  (1998), Schatzberg (1999), dan Chandler (2000) dalam Cahyadi (2006) mengemukakan bahwa pada saat ini teknologi tidak hanya diartikan di dalam ruang lingkup peralatan atau mesin saja namun juga bisa sebagai tekhnik, ataupun pembentuk budaya. Dengan demikian, teknologi dapat memiliki arti atau definisi yang berbeda-beda tergantung pada konteksnya. 
C. Pengertian dari Teknologi Informasi  Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar